April232014
“Jangan pernah bermimpi untuk menuai nanti jika kamu  tak pernah sudi menanamnya kini.” Huda al klateniy
8AM
“Menjadi mahasiswa mengajarkan saya bahwa kuliah bukanlah sebuah perlombaan menuju pencapaian gelar sarjana, tapi pembuktian diri tentang proses bertanggung jawab menyelesaikan apa yang telah dimulai, cepat ataupun lambat.” (via adindasukma)

Lulus dg cepat atau saat yg tepat? #ehh

(via catatanbesarku)

April222014
6AM
Beginilah nasib jadi atlet panco dadakan, dengan modal “Coba-coba” dan dapat lawan dua kali lebih besar dari kita. Meski kalah tak mengapa karena disitulah letak indah kenangannya :)

"Ga ada salahnya mencoba, yg salah kalau ga mau usaha"

#SEMANGAT!!! (9^,^)9

Beginilah nasib jadi atlet panco dadakan, dengan modal “Coba-coba” dan dapat lawan dua kali lebih besar dari kita. Meski kalah tak mengapa karena disitulah letak indah kenangannya :)

"Ga ada salahnya mencoba, yg salah kalau ga mau usaha"

#SEMANGAT!!! (9^,^)9

April202014
achmadlutfi:

Ini adalah tentang Dandelion. Tentang sekuntum Bunga yang biasa, yang keberadaannya juga dianggap biasa, tumbuh dan merekah diantara rerumputan yang tak terlalu diperhatikan.
Tetapi cobalah lihat sekali lagi. Biarkan pandanganmu jatuh lebih dekat kepada ia yang sempurna berbeda disetiap siklus hidupnya. Mungkin, dan aku rasa memang begitu, pada rentang waktu yang tak terlalu panjang, rasa iba akan memenuhi segenap ruang hatimu. Persis seketika kamu tersadar, bahwa ia terlalu cantik dengan takdirnya yang tak terlalu istimewa.
Deretan tanya yang bermula pada kata Mengapa, boleh jadi berloncatan dalam benakmu lantaran berusaha mencari jawaban tentang kenyataan. Tentang kisah hidup Sang Bunga yang baru saja kamu perhatikan.
Mengapa ia tak seperti Edelweiss yang memesona di Puncak sana? Permaisuri yang bertahta di Pegunungan, yang bahkan jemarimu tak layak tuk sembarang membawanya pulang.
Atau mengapa ia tak seperti Bunga Teratai yang elok itu? Berbalut mahkota yang anggun, yang tuk menyentuhnya saja kamu dipaksa rela berbasah kuyup.
Kata yang berbaris-baris, lisan yang bertutur berpanjang lebar, tak kan mengantarkanmu pada jawaban-jawaban itu. Sebab mereka justru tertata pada satu tahun yang sempurna. Pada episode yang berputar dan berganti. Pada cerita yang seakan kembali berjejak ke permulaannya.
Hingga pada satu musim semi yang menghangat, Sang Bunga hadir dan merekah. Ia perlambang keceriaan, ia isyarat akan keteguhan, serta penerimaan atas hidup yang rapuh. Ia yang layak dibesarkan hatinya, justru datang jadi pelipur lara, jadi penyejuk atas hari-hari yang terlalu dingin kemarin.
Bahkan jelang kepergiannya, tak habis ia jadi pesona. Meretas tulus bersama angin yang membawanya pergi menuju satu masa yang lain. Seakan-akan tak pernah selesai ia menyadarkan kita, bahwa hidup, bagaimanapun wujud dan rupanya, selalu patut untuk disyukuri. Bahwa sesungguhnya selalu ada musim semi, pada rangkaian musim-musim yang lain.
Dandelion. Ia memang bukan Edelweiss, bukan Teratai. Ia adalah ia yang tak menyerupai siapa-siapa. Kisahnya adalah kisahnya sendiri. Bukan kisah yang diagungkan dalam dongeng-dongeng. Ia Ratu yang istananya ada diantara mereka, yang sekali lagi, dianggap lazim dan biasa.
Achmad LutfiWolfsburg, 20 April 2014

achmadlutfi:

Ini adalah tentang Dandelion. Tentang sekuntum Bunga yang biasa, yang keberadaannya juga dianggap biasa, tumbuh dan merekah diantara rerumputan yang tak terlalu diperhatikan.

Tetapi cobalah lihat sekali lagi. Biarkan pandanganmu jatuh lebih dekat kepada ia yang sempurna berbeda disetiap siklus hidupnya. Mungkin, dan aku rasa memang begitu, pada rentang waktu yang tak terlalu panjang, rasa iba akan memenuhi segenap ruang hatimu. Persis seketika kamu tersadar, bahwa ia terlalu cantik dengan takdirnya yang tak terlalu istimewa.

Deretan tanya yang bermula pada kata Mengapa, boleh jadi berloncatan dalam benakmu lantaran berusaha mencari jawaban tentang kenyataan. Tentang kisah hidup Sang Bunga yang baru saja kamu perhatikan.

Mengapa ia tak seperti Edelweiss yang memesona di Puncak sana? Permaisuri yang bertahta di Pegunungan, yang bahkan jemarimu tak layak tuk sembarang membawanya pulang.

Atau mengapa ia tak seperti Bunga Teratai yang elok itu? Berbalut mahkota yang anggun, yang tuk menyentuhnya saja kamu dipaksa rela berbasah kuyup.

Kata yang berbaris-baris, lisan yang bertutur berpanjang lebar, tak kan mengantarkanmu pada jawaban-jawaban itu. Sebab mereka justru tertata pada satu tahun yang sempurna. Pada episode yang berputar dan berganti. Pada cerita yang seakan kembali berjejak ke permulaannya.

Hingga pada satu musim semi yang menghangat, Sang Bunga hadir dan merekah. Ia perlambang keceriaan, ia isyarat akan keteguhan, serta penerimaan atas hidup yang rapuh. Ia yang layak dibesarkan hatinya, justru datang jadi pelipur lara, jadi penyejuk atas hari-hari yang terlalu dingin kemarin.

Bahkan jelang kepergiannya, tak habis ia jadi pesona. Meretas tulus bersama angin yang membawanya pergi menuju satu masa yang lain. Seakan-akan tak pernah selesai ia menyadarkan kita, bahwa hidup, bagaimanapun wujud dan rupanya, selalu patut untuk disyukuri. Bahwa sesungguhnya selalu ada musim semi, pada rangkaian musim-musim yang lain.

Dandelion. Ia memang bukan Edelweiss, bukan Teratai. Ia adalah ia yang tak menyerupai siapa-siapa. Kisahnya adalah kisahnya sendiri. Bukan kisah yang diagungkan dalam dongeng-dongeng. Ia Ratu yang istananya ada diantara mereka, yang sekali lagi, dianggap lazim dan biasa.

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 20 April 2014

(via annisaadejanira)

12PM
Karena memang setiap kisah akan berakhir dengan indah. :)
Insya Allah kulluhu khair
Created by: A.A.N ^^

Karena memang setiap kisah akan berakhir dengan indah. :)
Insya Allah kulluhu khair

Created by: A.A.N ^^

April192014

Jangan dulu bersedih kala mengetahui kekurangan yg dimiliki, karena nanti pasti akan ada yang datang untuk melengkapi.

Tugasmu kini adalah memperbaiki serta memantaskan diri, agar nanti ia yang datang melengkapi sadar bila dirimulah yang ia cari selama ini.

Selamat pagi (^_^)

Huda Al Klateniy
April172014

mungkin saja pandangan kita tertuju pada arah yang berbeda, aku ke utara dan kau ke selatan. Namun karena arah yang berbeda, maka bisa jadi kita saling pandang antara satu dengan yang lainnya.

karena memang yang nampak berbeda bisa juga menjadi sama.

2PM
“Orang pintar itu setelah melalui berbagai hal yang sulit, karena memang suatu hal yg dianggap sulit kini akan terasa mudah nanti setelah kau bersabar untuk melewati.” Pak Usman ( Dosen Teknik Pengolahan Pangan)
5AM
“jika wanita cantik itu ibarat bintang di langit, maka wanita yang bertahajjud di sepertiga malam tentulah yang paling bersinar di kegelapan” (via ahmadkrishar)

(via catatanbesarku)

← Older entries Page 1 of 130